“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita
yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman.” (Yusuf: 111).
Allah ialah yang awal;
yang tidak ada sesuatu sebelum-Nya, yang berbuat sesuai kehendak-Nya, tidak ada
waktu yang membatasi seluruh perbuatan-Nya, firman-Nya keluar sesuai dengan
kehendak-Nya, kehendak-Nya sejalan dengan kebijakan-Nya; karena memang Allah
adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dalam segala hal yang telah ditakdirkan dan
ditetapkan-Nya, sebagaimana Allah pun Maha Bijaksana dalam menetapkan semua
ketentuan syari’at-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Berdasarkan
kebijaksanaan Allah yang menyeluruh, ilmu-Nya yang melingkupi segala hal dan
rahmat-Nya yang sempurna maka Allah Ta’ala memutuskan untuk menciptakan Nabi
Adam AS sebagai bapaknya manusia, dimana Allah mengutamakan manusia di atas
mahluk lainnya dengan beberapa keutamaan. Kemudian Allah Ta’ala
memberitahukannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (al-Baqarah: 30). Yakni
seorang khalifah yang berbeda dari mahluk sebelum mereka yang tidak akan
mengetahuinya selain Allah.”
Kemudian para malaikat
berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” (Al-Baqarah: 30).
Perkataan itu diutarakan mereka dengan maksud mengagungkan Rabb mereka jangan
sampai Rabb mereka menciptakan mahluk di muka bumi ini yang akhlaknya
menyerupai akhlak mahluk yang pertama atau Allah Ta’ala mengabarkan kepada mereka
tentang penciptaan Nabi Adam AS dan pelanggaran yang akan diperbuat
keturunannya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir
berkata dalam kitabnya al-Bidaayah Wa an-Nihaayah (1/70-71): “Allah Ta’ala
mengabarkan kepada para malaikat dengan gaya
bahasa pujian mengenai penciptaan Nabi Nabi Adam AS dan keturunannya, seperti
halnya Allah mengabarkan urusan yang besar sebelum penciptaannya. Para malaikat pun bertanya dengan maksud menyelidiki dan
mencari tahu tentang hikmah di balik penciptaannya tersebut; dan bukan
bermaksud menentang penciptaan Nabi Adam AS dan keturunannya atau iri terhadap
mereka; sebagaimana yang dituduhkan para mufassir yang bodoh.”
Allah berfirman kepada
para malaikat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(al-Baqarah: 30)
Sesungguhnya ilmu Allah
meliputi segala sesuatu serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan mahluk
tersebut (Nabi Adam AS) mengenai maslahat dan manfaatnya yang tidak terhitung
dan tidak terhingga.
Allah memberitahukan
kepada mereka tentang keberadaan Dzat-Nya yang sempurna ilmu-Nya dan Allah
mesti mengenalkan keberadaan Dzat-Nya yang memiliki keluasan ilmu dan hikmah,
sehingga Dia tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan tidak ada
hikmah di baliknya.
Kemudian Allah
menjelaskan kepada para malaikat secara mendetail; bahwa Dia akan menciptakan Nabi
Adam AS dengan tangan-Nya langsung dan akan memuliakannya di atas seluruh
mahluk lainnya. Allah menggenggam satu genggaman dari semua lapisan tanah; baik
yang halus, yang kasar, yang subur dan yang gersang, sehingga keturunannya
memiliki tabiat-tabiat tersebut. Pada mulanya hanya berupa tanah, kemudian
Allah meneteskan air di atasnya, sehingga berubah menjadi lumpur (tanah liat),
dan setelah keberadaan air di dalam lumpur tersebut telah cukup lama, maka lumpur
itu berubah menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk. Selanjutnya Allah Ta’ala
menyempurnakan kejadiannya setelah membentuknya terlebih dahulu; sehingga
keberadaannya bagaikan tembikar dari tanah liat. Pada tahapan ini, maka ia
hanya berbentuk jasad tanpa ruh. Setelah Allah menyempurnakan penciptaan
jasadnya, maka Allah meniupkan ruh ke dalamnya, sehingga jasad itu berubah yang
tadinya hanya benda mati menjadi mahluk yang mempunyai tulang, daging, urat
saraf, urat-urat kecil dan ruh. Itulah hakikat penciptaan manusia, dan Allah
menjanjikannya dengan semua ilmu dan kebaikan.
Allah menyempurnakan
ni’mat-Nya kepada Nabi Adam AS dan mengajarinya nama-nama semua benda. Ilmu
yang sempurna niscaya dapat membawa kepada kesempurnaan yang pari purna dan
kesempurnaan akhlak. Allah hendak memperlihatkan kepada para malaikat mengenai
kesempurnaan mahluk ini (Nabi Adam AS). Kemudian Allah menanyakan kepada para
malaikat tentang nama-nama benda yang telah disebutkan Nabi Adam AS, seraya
Allah Ta’ala berfirman kepada mereka: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam
nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para
Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
memang kamu orang yang benar!” (Al-Baqarah: 31). Yakni perkataan para malaikat
yang terdahulu yang meminta supaya Allah SWT meninggalkan penciptaan-Nya
didasarkan pada kenyataan yang tampak di hadapan mereka pada saat itu.
Para
malaikat tidak mampu mengetahui nama-nama benda yang telah disebutkan Nabi Adam
AS, seraya mereka berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 32)
Allah Ta’ala berfirman,
“Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah
diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah
Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi
dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al-Baqarah:
33)
Para
malaikat menyaksikan langsung kesempurnaan mahluk tersebut (Nabi Adam AS) dan
kesempurnaan ilmunya yang tidak dimiliki mereka dalam hal hitungannya. Dengan
kejadian itu, mereka mengetahui secara mendetail dan menyaksikan langsung kebijaksanaan
Allah, kemudian mereka pun mengagungkan serta menghormati Nabi Adam AS. Allah
menghendaki pengagungan dan penghormatan yang diperlihatkan para malaikat
kepada Nabi Adam AS dilakukan secara lahir dan bathin.
Allah Ta’ala berfirman
kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” (Al-Baqarah: 34). Yakni
hendaklah kamu menghormati, mengagungkan dan memuliakannya sebagai ibadah,
ketaatan, kecintaan dan kepatuhanmu kepada Rabbmu.
Kemudian para malaikat
pun segera bersujud seluruhnya. Ketika mereka sujud, maka ketika itu Iblis
berada di antara mereka dan Allah memerintahkannya supaya bersujud kepadanya
bersama-sama dengan para malaikat. Iblis bukan berasal dari golongan malaikat,
melainkan berasal dari golongan jin yang diciptakan dari api yang sangat panas.
Iblis menyembunyikan keingkaran terhadap perintah Allah dan ia merasa iri
dengan manusia yang diberikan keutamaan dengan keutamaan tersebut.
Kesombongan dan
keingkaran Iblis menyeretnya ke lembah penolakan bersujud kepada Nabi Adam AS.,
dan sebagai bentuk keingkaran terhadap perintah Allah Ta’ala dan menunjukkan
kesombongan.* Iblis tidak dapat menahan perasaan benci dan keengganannya
bersujud kepada Nabi Adam AS., sehingga ia mentolelir dirinya untuk menunjukkan
penentangannya kepada Rabbnya serta mencela kebijakan-Nya, seraya berkata,
“Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau
ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12). Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman
kepadanya: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah
Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu
(merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shad: 75)
Jadi kekufuran,
kesombongan, keingkaran dan kedengkian adalah sebab utama yang membuat Iblis
diusir dan dilaknat.
Allah Ta’ala berfirman
kepadanya: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya
menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang hina.” (al-A’raf: 13)
Iblis tidak mau tunduk
terhadap perintah Rabbnya dan tidak mau bertaubat kepada-Nya, bahkan ia secara
terang-terangan memperlihatkan sikap permusuhannya dan bersikeras akan memusuhi
Nabi Adam AS dan keturunannya. Setelah Iblis mengetahui bahwa Allah telah
memutuskan baginya penderitaan yang abadi, maka ia segera menyiapkan dirinya
untuk menyeru keturunan Nabi Adam AS (manusia) melalui perkataannya atau
perbuatannya dan menjadikan mereka sebagai bala tentaranya serta pengikut
setianya yang dijanjikan bagi mereka lembah kebinasaan. Iblis berkata, “Ya
Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (Shad: 79).
Selanjutnya tuntaslah pemberian hak atas Iblis untuk memusuhi Nabi Adam AS dan
keturunannya.
Karena kebijakan Allah
telah ditetapkan, bahwa manusia terdiri dari beberapa tabiat yang saling
berlawanan, akhlak yang baik atau yang jelek, maka merupakan suatu kemestian
untuk membedakan akhlak itu dan cara membersihkannya sesuai dengan kadar
penyebabnya dari ujian yang dihadapinya. Ujian terbesarnya adalah kemungkinan
Iblis menyeru mereka kepada segala kejahatan, dimana Allah telah mengabulkan
permintaan Iblis, seraya berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang
yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari
kiamat).” (Shad: 80-81)
Kemudian Iblis berkata
kepada Rabbnya sambil mengikrarkan kedurhakaannya serta permusuhannya kepada
Nabi Adam AS dan keturunannya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat,
saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari
kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur (ta'at).” (al-A’raf: 16-17)
Iblis mengutarakan
perkataannya itu, karena ia merasa yakin tidak akan gagal menggoda manusia.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap
mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.”
(as-Saba’: 20)
Selanjutnya Allah
menetapkan perintah yang dikehendaki oleh Iblis yaitu menyesatkan Nabi Adam AS
dan keturunannya, seraya Allah berfirman kepadanya: “Pergilah, barangsiapa di
antara mereka mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah
balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang
kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka
pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan
mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang
dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (al-Isra’: 63-64)
Yakni, jika kamu mampu,
maka jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang menyimpang dalam mendidik
anak-anak mereka dengan pendidikan yang mendatangkan kemudaratan, dan dalam
mengelola harta mereka dengan pengelolaan yang menimbulkan kemudaratan dan
kegiatan usaha yang melahirkan penderitaan. Kemudian akan berserikat dengannya
dari mereka dalam harta dan anak-anak, yaitu orang-orang yang jika memakan makanan,
meminum air dan melangsungkan pernikahan, maka mereka tidak menyebut nama
Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
“… dan beri janjilah mereka” , yakni perintahkanlah kepada mereka agar
mendustakan Ba’ats (kebangkitan dari kubur) serta adanya balasan pahala, tidak
menggiring mereka kepada kebaikkan, menakut-nakuti mereka dengan para kekasihmu
dan menakut-nakuti mereka ketika akan mengeluarkan infak yang bermanfaat dengan
menggiring mereka kepada kekejian dan kebakhilan. Ketentuan itu berasal dari
Allah untuk memperlihatkan sejumlah hikmah dan rahasia yang besar.
Sesungguhnya kamu, hai
musuh yang nyata (Iblis), bahwa kemampuanmu tidak akan tersisa sedikitpun dalam
menyesatkan mereka. Orang jahat dari mereka akan terlihat kejahatan dan
keburukannya, dan Allah tidak akan mempedulikannya.
Sesungguhnya keturunan
Nabi Adam AS terutama para nabi dan para pengikut mereka yang terdiri dari
orang-orang yang jujur, orang-orang yang menjaga kesucian diri, para wali dan
orang-orang mukmin niscaya Allah Ta’ala tidak memberikan kekuasaan kepada Iblis
untuk menyesatkan mereka. Bahkan Allah Ta’ala mendirikan untuk mereka sebuah
benteng yang diliputi perlindungan serta jaminan-Nya, dan membekali mereka
senjata yang tidak mungkin sanggup diterjang musuh yaitu keimanan kepada Allah
dan kekuatan tawakkal mereka kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan Allah dalam
firman-Nya, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang
beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (an-Nahl: 99)
Selain itu Allah telah
membantu mereka untuk menentang musuh tersebut (Iblis) dengan beberapa cara,
yaitu:
1.
Allah telah menurunkan kepada
mereka Kitab-Nya yang mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat dan nasehat-nasehat
yang meninggalkan kesan dan memberikan pengaruh serta memberikan dorongan untuk
mengerjakan sejumlah kebaikan dan mewanti-wanti dari mengerjakan sejumlah
keburukan.
2.
Allah telah mengutus para rasul
kepada mereka untuk memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman kepada
Allah dan taat kepada-Nya dengan balasan pahala yang kontan dan memperingatkan
orang yang kufur, mendustakan ayat Allah dan berpaling dari jalan-Nya dengan
siksaan yang bermacam-macam. Kemudian menjamin orang yang mengikuti
petunjuk-Nya yang diturunkan kepadanya melalui kitab-Nya serta mengutus para
rasul-Nya kepadanya supaya tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di
akhirat serta baginya tidak ada ketakutan dan tidak ada kesedihan yang
memilukannya.
3.
Allah telah memberikan bimbingan
kepada mereka yang tertera dalam kitab-Nya serta melalui lisan para rasul-Nya
supaya mengerjakan langkah-langkah yang dapat mengalahkan musuh mereka (Iblis),
dan menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal yang diserukan syetan dan
jalan-jalannya yang dapat menyebabkan khalifah (manusia) menjadi mangsa
buruannya.
4.
Sebagaimana halnya Allah telah
membimbing mereka dengan menjelaskan hal-hal yang diserukan syetan dan
jalan-jalannya, maka Allah juga telah membimbing mereka ke jalan yang akan
menyelamatkan mereka dari kejahatan dan fitnahnya dan menolong mereka untuk
mewujudkannya dengan pertolongan takdir yang di luar kemampuan mereka. Karena
ketika mereka mengerahkan seluruh usaha mereka serta memohon pertolongan kepada
Rabb mereka, niscaya Allah sebagai Rabb mereka akan memberi kemudahan kepada
mereka dalam menempuh semua jalan yang dapat menyampaikan mereka kepada tujuan
yang dimaksud.
5.
Allah menyempurnakan ni’mat-Nya
kepada Nabi Adam AS dengan diciptakannya Hawa sebagai pasangan dari jenisnya
dan sesuai dengan wujudnya agar ia merasa senang kepadanya dan Allah pun
menyempurnakan sejumlah tujuan yang bermacam-macam melalui proses perkawinan,
perkumpulan dan penjagaan keturunan melalui proses perkawinan tersebut.
Allah SWT berfirman
kepada Nabi Adam AS dan istrinya: “Sesungguhnya syetan itu ialah musuh kamu
berdua, hendaklah kamu berdua berhati-hati kepadanya, sehingga jangan sampai
syetan itu mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang Allah telah menempatkan
kamu berdua di dalamnya; dan Allah telah membolehkan kamu berdua memakan
seluruh buah-buahan dan meni’mati seluruh keni’matannya, kecuali hanya satu
pohon yang dilarang Allah di dalam surga tersebut, dimana Allah telah
mengharamkannya kepada keduanya, seraya berfirman, “Hai Adam, bertempat
tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan)
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,
lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.” (al-A’raf: 19)
Allah berfirman kepada
Nabi Adam AS dalam meni’mati seluruh ni’mat yang tersedia di dalam surga:
“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,
dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa
panas matahari di dalamnya.” (Thaha: 118-119)
Keduanya tinggal di
dalam surga tersebut sesuai dengan kehendak Allah; sebagaimana yang telah
dijelaskan Allah bahwa musuh keduanya selalu mengawasi atau mengintai keduanya
dan menunggu kesempatan untuk menggoda keduanya.
Ketika Iblis melihat
kebahagiaan pada diri Nabi Adam AS dengan dimasukan ke dalam surga dan keinginannya
yang besar untuk tetap kekal di dalamnya, maka Iblis menemuinya dengan cara
yang halus dalam wujud seorang teman yang akan memberikan nasehat, seraya
berkata, “Hai Adam, apakah kamu ingin aku tunjukkan ke suatu pohon yang jika
kamu memakan buahnya, maka kamu akan kekal dalam surga ini. Sedang Rabb Yang
Maha Kuasa tidak menghendakimu kekal di dalamnya.”
Iblis senantiasa
berusaha membisikan pikiran-pikiran jahat, merayu, menggoda, membujuk,
berjanji, bersumpah dan menasehati keduanya dengan nasehat yang nyata-nyata
sebagai tipu daya yang besar; sehingga akhirnya keduanya terpedaya dan memakan
buah pohon yang dilarang atau diharamkan Allah atas keduanya.
Ketika keduanya memakan
buah pohon itu, maka tampaklah aurat keduanya yang sebelumnya tertutupi, sehingga
keduanya memetik daun-daun dari surga untuk menutupi aurat keduanya. Yakni
menempelkan daun-daun surga itu untuk menutupi badan keduanya yang telanjang
sebagai pengganti pakaian.
Seketika itu juga turun
dan tampak di hadapan keduanya akibat pelanggaran yang telah dilakukan
keduanya, sehingga Rabb keduanya menegur keduanya, seraya berfirman, “Bukankah
Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.” (al-A’raf:
22)
Allah Ta’ala
menumbuhkan dalam hati keduanya keinginan untuk bertaubat yang sesungguhnya dan
memohon ampunan yang sejujurnya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam
firman-Nya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya.” (Al-Baqarah:
37). Selanjutnya “keduanya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri
kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada
kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)
Kemudian Allah menerima
taubat keduanya dan menghapus dosa yang telah diperbuat keduanya, akan tetapi
Allah tetap memberikan peringatan atas perbuatan dosa tersebut; yaitu dengan
mengeluarkan keduanya dari surga karena memakan buah dari pohon yang telah
ditetapkan. Keduanya dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi yang
kebaikannya datang silih berganti dengan keburukannya, kebahagiaannya datang
silih berganti dengan penderitaannya.
Allah juga mengabarkan
kepada keduanya, bahwa Dia akan menguji keduanya dan keturunan keduanya, dimana
bagi orang yang beriman dan beramal shalih, niscaya akan mendapatkan balasan
yang lebih baik dari keadaannya semula, sedang bagi orang yang mendustakan
ayat-ayat Allah dan berpaling dari jalan-Nya, niscaya akan memperoleh balasan akhir
yang buruk yaitu penderitaan yang abadi dan siksaan yang kekal.
Allah Ta’ala
mewanti-wanti kepada keturunan keduanya supaya waspada terhadap godaan dan tipu
daya syetan, seraya berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat
ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari
surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada
keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari
suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (al-A’raf: 27)
No comments:
Post a Comment