Allah
memerintahkan kepada keduanya supaya mengganti pakaian keduanya yang dilepaskan
oleh syetan dengan pakaian yang dapat menutupi aurat keduanya. Dengan pakaian
tersebut maka tercapailah keindahan lahiriyah dalam kehidupan. Akan tetapi
pakaian yang lebih tinggi kedudukannya dari pakaian tersebut adalah pakaian
takwa yang menjadi pakaian hati dan ruh, yaitu: keimanan, keikhlasan, taubat
dan menghiasi diri dengan semua akhlak terpuji dan menjauhkan diri dari semua
akhlak tercela.
Kemudian
Allah mengembangbiakkan keturunan dari Nabi Adam AS dan Hawa istrinya yang
terdiri dari kaum laki-laki dan kaum wanita dalam jumlah yang banyak,
menyebarluaskan mereka di muka bumi dan menjadikan mereka sebagai khalifah di
dalamnya untuk melihat bagaimanakah mereka beramal.
Allah SWT
berfirman dalam surat
al-Kahfi, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah
kamu kepada Nabi Adam AS”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari
golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia
dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka
adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi
orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi: 50).
Al-Hafizh
Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya al-Bidaayah Wa an-Nihaayah (1/72-73): “Iblis
keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan sengaja dan menunjukkan
keingkaran atau kesombongannya dengan menolak perintah-Nya. Tidaklah Iblis
menunjukkan sikap tersebut, kecuali ia telah mengkhianati tabi’atnya serta
materi jasadnya, dimana materi yang jelek akan membutuhkan sesuatu yang dapat
menutupi kejelekkannya, dan ia adalah mahluk yang diciptakan dari api
sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya. Juga sebagaimana telah
dijelaskan dalam kitab Shahîh Muslim dari Aisyah RA dari Rasulullah SAW, seraya
bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Nabi
Adam AS diciptakan dari apa yangtelah digambarkan kepada kalian (dari tanah).”
Adapun di antara
faidah yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah:
1. Sesungguhnya kisah besar ini telah
dipaparkan Allah di dalam kitab-Nya dalam beberapa tempat (ayat) dengan paparan
yang jelas yang di dalamnya tidak ada keraguan dan termasuk kisah yang sangat
besar yang disepakati para rasul, kitab-kitab suci samawi diturunkan karenanya
dan seluruh pengikut para nabi dari mulai yang pertama hingga yang terakhir
telah meyakini kebenarannya.
Dewasa ini
muncul sekelompok zindiq yang mengingkari seluruh ajaran yang dibawa para
rasul, mengingkari adanya Pencipta (Rabb) serta tidak mempercayai ilmu kecuali
ilmu alam (fisika); sehingga pengetahuan mereka tidak akan dapat mengantarkan
kepada keyakinan tersebut, karena pengetahuan mereka sangat terbatas.
Berkenaan dengan
madzhab yang jauh dari kebenaran ini; baik menurut syara’ maupun akal sehat,
bahwa mereka telah mengingkari keberadaan Nabi Adam AS dan Hawa dan keterangan
yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang keberadaan keduanya.
Sedangkan
di antara mereka yang pendapatnya dianggap sesat adalah orang-orang yang
berpendapat bahwa manusia mengalami perkembangan dan kemajuan dalam masalah
akidah, sebagaimana berkembang dan majunya teknologi. Dengan pendapat tersebut,
mereka bermaksud menafikan sejarah akidah, sebagaimana yang dijelaskan
Al-Qur’an dalam kisah Nabi Adam AS dan Iblis dan menafikan wahyu dan para
rasul.
Mereka
beranggapan bahwa manusia itu berasal dari kera atau sejenisnya, kemudian ia
berevolusi sehingga mencapai wujudnya yang sekarang.
Mereka
terpedaya oleh teori mereka yang sangat keliru yang didasarkan pada asumsi akal
mereka yang sejak semula telah rusak dan mengabaikan keterangan yang bersumber
dari ilmu-ilmu yang benar, khususnya ilmu-ilmu yang dibawa para rasul.
Allah
Ta’ala telah menegaskan tentang kebenaran ilmu-ilmu yang dibawa para rasul
dalam firman-Nya, “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-sasul (yang dulu
diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa
senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab
Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Al-Mukmin: 83).
Keberadaan
mereka sangatlah jelas bagi kaum muslimin yang berilmu dan orang-orang yang
percaya adanya Pencipta, bahwa mereka adalah kelompok paling sesat. Tetapi
sebagian pengaruh pendapat madzhab atheis itu dan pendapat-pendapat lainnya
yang merujuk pendapat madzhab itu telah diminumkan dan dicekokkan kepada
sebagian kaum muslimin.
Ketika
sekolompok intelektual muslim yang menamakan diri sebagai kelompok modernis
menafsirkan tentang sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam AS dengan makna
tunduknya alam ini kepada manusia, dimana benda-benda bumi, barang tambang dan
sejenisnya telah ditundukan Allah Ta’ala kepada manusia. Itulah makna sujud
para malaikat kepada Nabi Adam AS.
Orang yang
beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya tidak akan ragu bahwa pendapat itu
bersumber dari pemikiran yang rusak dan bertentangan dengan kitab Allah
(Al-Qur’an), dimana tidak ada perbedaan di antara penentangannya dengan penentangan
yang dilakukan aliran kebatinan dan Qaramithah (salah satu sekte Syi’ah). Jika
penafsiran kisah di atas dimaknai dengan makna tersebut, maka penyimpangan
tersebut dapat terjadi pada kisah-kisah Al-Qur’an yang lainnya dan Al-Qur’an
akan beralih fungsi yang tadinya sebagai penjelas atas segala sesuatu, petunjuk
serta rahmat menjadi sebuah simbol yang memungkinkan semua musuh Islam
memperlakukannya dengan perlakuan tersebut, sehingga aturan-aturan hukum
Al-Qur’an dapat dibatalkan dengan penafsiran tersebut. Selain itu petunjuk
Al-Qur’an akan berubah menjadi kesesatan dan rahmatnya berubah menjadi
malapetaka. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Sesungguhnya perbuatan tersebut
merupakan kebohongan yang besar.
Bagi
seorang mukmin dalam menyikapi penafsiran semacam itu, maka cukup baginya
dengan membatilkan pemikiran atau pendapat keji tersebut dan berpaling kepada
keterangan yang dijelaskan Allah kepada kita tentang sujudnya para malaikat
kepada Nabi Adam AS, sehingga ia mengetahui bahwa pendapat itu dimaksudkan
untuk menafikan keterangan yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya
keindahan tutur kata para pemeluk madzhab tersebut hanya menarik perhatian
orang yang berprasangka baik kepada mereka, sedangkan seorang mukmin tidak akan
membiarkan keimanannya serta kitab suci Rabb-nya dinodai oleh pendapat yang
mengandung tipuan para pengikut madzhab tersebut.
2. Faidah lainnya berkaitan dengan
keutamaan ilmu, dimana sikap para malaikat saat ditunjukan kepada mereka
keutamaan Nabi Adam AS dengan ilmunya maka mereka mengakui keutamaan dan
kesempurnaannya, sehingga berhak mendapat pernghormatan dan pengagungan.
3. Bahwa orang yang dikaruniai ilmu oleh
Allah wajib mengakui ni’mat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya dan
semestinya ia berkata sebagaimana perkataan para malaikat dan para rasul, “Maha
Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 32). Selain itu sudah semestinya baginya
memelihara perkataannya dari segala hal yang tidak diketahuinya. Ilmu termasuk
ni’mat yang sangat besar, dan cara mensyukurinya adalah mengakuinya sebagai
milik Allah, memuji-Nya, mempelajarinya, mengajari orang bodoh, memahamkan
sesuatu hal yang telah diketahui kepada seseorang dan berdiam diri dari sesuatu
hal yang tidak diketahuinya.
4. Bahwa Allah menjadikan kisah tersebut
sebagai pelajaran bagi kita, dimana kesombongan, kedengkian dan ketamakan
adalah akhlak yang sangat berbahaya bagi seorang hamba, karena kesombongan dan
kedengkian Iblis kepada Nabi Adam AS telah mengubah keadaannya sebagaimana
telah anda ketahui serta ketamakan Nabi Adam AS dan Hawa istrinya telah
mendorong keduanya memetik buah pohon yang dilarang. Jika saja tidak ada rahmat
Allah kepada keduanya, niscaya keduanya akan terjerumus ke dalam jurang
kebinasaan. Dengan adanya rahmat Allah, sehingga yang kurang menjadi sempurna,
yang kalah menjadi menang, yang binasa menjadi selamat dan yang hina menjadi
mulia. Al-Hafizh Ibnu Al-Qayyim berkata dalam kitabnya Al-Fawaa`id (hal. 105):
“Sumber kesalahan semuanya ada tiga hal, yaitu:
Kesombongan,
sifat yang menyebabkan Iblis mengalami akibat sebagaimana dijelaskan di atas.
Ketamakan, sifat yang menyebabkan Nabi Adam AS AS dikeluarkan dari surga.
Kedengkian, sifat yang menyebabkan seseorang bertindak lalim (lancang) kepada
saudaranya.
Barangsiapa
yang terjerumus ke dalam kejelekkan ketiga sifat tersebut, niscaya ia telah
jatuh ke dalam kejelekkan. Kekufuran bersumber dari kesombongan, kema’siatan
bersumber dari ketamakan dan kelancangan dan kelaliman bersumber dari
kedengkian.”
5. Bahwa diwajibkan atas seseorang ketika
jatuh ke dalam perbuatan dosa untuk segera bertaubat dan mengakui dosa yang
diperbuatnya serta mengucapkan ucapan sebagaimana yang diucapkan kedua ibu
bapaknya (yakni Nabi Adam AS dan Hawa) dengan hati yang ikhlas dan bertaubat
dengan benar. Tidaklah Allah menceritakan taubat keduanya, kecuali supaya kita
mengikuti taubat keduanya, sehingga kita mendapatkan kebahagiaan dan
diselamatkan dari kebinasaan. Juga tidaklah Allah Ta’ala menceritakan kepada
kita tentang hal-hal yang dibisikan syetan dari sesuatu yang dijanjikan kepada
kita dan tipu daya yang dihembuskannya untuk menyesatkan kita yang dilakukannya
dengan berbagai cara, kecuali supaya kita waspada terhadap musuh tersebut yang
secara terang-terangan dan terus-menerus menunjukan permusuhannya.
Allah
mencintai kita dengan memerintahkan kita supaya melawan Iblis dengan
mengerahkan segenap kemampuan menjauhi jalannya dan garis-garis kebijakannya
dan melakukan hal-hal yang akan menumbuhkan perasaan takut akan terjatuh ke
dalam perangkapnya, melakukan amalan-amalan yang menjadi benteng pelindung
seperti: wirid-wirid yang shahih, dzikir hati dan ta’awudz yang bermacam-macam,
menyiapkan senjata penghancur perangkapnya berupa iman yang benar serta
kekuatan tawakal kepada Allah, mengabaikan kebenciaannya terhadap amal-amal
kebaikan dan menentang bujukannya dan pikiran-pikiran keji yang selalu
dihembuskannya setiap saat ke dalam hati dengan melakukan perbuatan yang
sebaliknya dan yang membatalkannya seperti ilmu-ilmu yang bermanfaat dan
melakukan segala hal yang benar.
6. Bahwa di dalam kisah di atas terdapat
dalil bagi madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menetapkan bagi Allah sesuatu
yang telah ditetapkan-Nya untuk Dzat-Nya seperti nama-nama yang baik (Asmmaa`ul
Husnaa) dan sifat-sifat secara keseluruhan, tanpa membedakan di antara
sifat-sifat Dzat dan sifat-sifat perbuatan.
7. Menetapkan dua tangan bagi Allah seperti
disebutkan dengan jelas di dalam kisah Nabi Adam AS, “Lammaa Khalaqtu Bi Yadayya
(… yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku).” (Shaad: 75). Yakni Allah
memiliki dua tangan menurut makna yang hakiki yang tidak serupa dengan tangan
mahluk, seperti halnya Dzat-Nya tidak serupa dengan dzat mahluk serta
sifat-sifat-Nya tidak serupa dengan sifat-sifat mahluk.
Ahlussunnah
sepakat bahwa Allah Ta’ala memiliki dua tangan yang selalu terbentang
memberikan karunia serta keni’matan, dan keduanya merupakan sifat dzatiyah yang
tetap bagi-Nya menurut kepatutan; dan mereka sepakat bahwa keduanya adalah
tangan dalam arti hakiki yang tidak serupa dengan tangan mahluk serta tidak
boleh mengalihkan makna keduanya kepada makna kekuasaan, ni’mat serta makna
lainnya karena beberapa alasan, yaitu:
Pertama,
mengalihkan pembicaraan dari makna hakiki ke makna majazi (kiasan) tanpa dalil.
Kedua,
makna tersebut tidak sesuai secara bahasa dalam konteks kalimat seperti firman
Allah: “Lammâ Khalaqtu Bi Yadayya (… yang telah Ku-ciptakan dengan kedua
tangan-Ku) dan tidak tepat menggantinya dengan makna: “Lammâ Khalaqtu Bi
Ni’matî Au Quwwatî (yang telah Ku-ciptakan dengan ni’mat-Ku atau kekuasaan-Ku)
.
Ketiga,
adanya penyandaran kata yadd kepada kata Allah dalam bentuk Tatsniyyah (kata
yang menunjukkan makna dua), dan tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
pada satu tempat pun menyandarkan kata ni’mat atau quwwah kepada kata Allah
dalam bentuk Tatsniyyah, sehingga bagaimana mungkin menafsirkan kata yang satu
dengan kata yang satunya lagi?
Keempat,
Jika yang dimaksud dengan kedua tangan dalam konteks tersebut adalah kekuasaan,
maka entunya dipandang sah mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan
Iblis dengan kekuasaan-Nya” dan perkataan sejenisnya. Seandainya dibolehkan,
niscaya Iblis akan berargumen dengan perkataan itu kepada Rabb-nya ketika berfirman
kepadanya, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah
Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Shaad: 75).
Masih
banyak alasan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat merujuk kitab Al-Fatwa
Al-Hamawiyyah, karya Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dan ringkasannya karya Ibnu
‘Utsaimin.
No comments:
Post a Comment